![]() |
| Foto: Ilustrasi. |
JAKARTA – Fenomena kekerasan ekstrem dan kasus bunuh diri yang melibatkan anak-anak di bawah umur, khususnya siswa Sekolah Dasar (SD), menjadi sorotan tajam belakangan ini. Menanggapi hal tersebut, Psikolog Klinis Forensik Anak dan Remaja, Dr. (C) Lucy Lidiawati Santioso, S.Psi., S.H., M.H., menekankan pentingnya melihat kasus ini tidak hanya dari satu sisi, melainkan melalui data kolateral yang menyeluruh atau autopsi psikologis.
Dalam diskusi yang mengangkat topik “Ketika Luka Membekas: Memahami Trauma Psikologis dalam Kehidupan Sehari-hari”, Psikologi yang biasa dipanggil Bunda Lucy ini menjelaskan bahwa anak yang mengalami trauma luar biasa baik karena pengabaian (neglect), kekerasan fisik, maupun tekanan mental yang berat sering kali merasa terdesak dan hanya melihat dua pilihan ekstrem sebagai jalan keluar: menghancurkan sumber masalah atau menyakiti diri sendiri.
Lucy memaparkan bahwa respons trauma pada anak sangat berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri fight, flight, atau freeze.
“Anak yang mengalami masalah berat pilihannya cuma dua: bunuh sumbernya atau sakitin diri sendiri,” ujar Lucy.
Ia mencontohkan kasus tragis di Duren Sawit, di mana seorang anak membunuh ayah kandungnya. Menurutnya, tindakan tersebut adalah bentuk “membunuh sumber” masalah akibat penyiksaan berkepanjangan dan paksaan bekerja hingga dini hari. Sebaliknya, pada kasus anak SD yang memilih mengakhiri hidup, hal tersebut merupakan bentuk flight atau pelarian ekstrem dengan menyakiti diri sendiri karena merasa tidak ada jalan lain.
Lebih lanjut, Lucy menyoroti faktor perkembangan otak anak usia SD. Pada usia ini, kemampuan berpikir rasional dan pengambilan keputusan (prefrontal cortex) belum berkembang sempurna.
“Anak SD belum mampu memutuskan dan berpikir baik, belum bisa mengambil keputusan secara matang, masih impulsif, masih berpikir sesaat,” jelasnya. Ketidakmatangan ini membuat anak rentan terhadap keputusan fatal yang diambil dalam waktu singkat tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.
Selain faktor internal, Lucy juga tidak menampik adanya pengaruh eksternal seperti media sosial yang dapat memanipulasi pola pikir anak. Informasi yang tidak tersaring di media sosial dapat memberikan “edukasi” yang salah mengenai cara penyelesaian masalah, bahkan memicu ide untuk bunuh diri.
Terakhir, Lucy menegaskan bahwa dalam psikologi forensik, sebuah kasus tidak bisa disimpulkan hanya dari potongan berita. Diperlukan penggalian data kolateral secara utuh untuk memahami riwayat trauma dan pemicu sebenarnya.
Analisis ini menjadi peringatan keras bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi kesehatan mental anak serta mengawasi paparan informasi yang mereka terima. (AR)
